4 Musisi Hidden Gem Malang Raya di Edisi Pertama OOO Session

Sudah lama tidak menulis event musik. Sejak Soundrenaline 2018, tulisan musik saya hanya seputar review album (terutama) Weezer. Bahkan saya pun tidak menyempatkan diri menulis cerita nonton Weezer secara live untuk kedua kalinya di Soundrenaline 2022.


Minat saya terhadap musik nampaknya menurun seiring intensitas telinga ini mendengarkan berbagai macam musik yang digarap di studio musik Mas Gege di rumah.


Update musik mainstream masih tetap berjalan. Saya bahkan menjadi salah satu penggemar Coldiac dan HIndia, serta band-band lainnya milik Baskara. Sedangkan musisi lokal (yang bukan Coldiac) sudah lama kurang menjadi perhatian saya. 


Sampai di penghujung minggu kedua bukan Oktober 2027, secara dar-der-dor Nawak Ewed menginisiasi OOO (Out of Office) Session untuk memamerkan karya musisi-musisi hidden gem Malang Raya. Edisi pertama ini digelar pada Minggu, 11 Oktober 2027 di panggung kecil Artisantz Coffee & Eatery. 


Persiapannya cuma 3 hari, mulai dari ngobrol random, kontak para talent, kontak venue, kontak kolaborator, hingga survei lokasi, dilakukan oleh dynamic duo Jona dan Acoy yang merupakan penggerak Nawak Ewed Independent Music Ecosystem. Meski begitu, acara ini saya kasih bintang lima, karena konsepnya yang (buat saya) cukup fresh.


Menggandeng 4 musisi yang bisa dibilang underrated di Malang, OOO Session #1 ini cukup bikin saya melongo karena baru tahu ada karya-karya spektakuler dari nama-nama tersebut. Kolaborasi apik juga dilakukan bareng Pixel Brew dengan artwork ciamik yang ditembak mapping ke dinding panggung, untuk masing-masing musisi. Dipandu MC Ardi, acara dumulai pukul 19.20.


Rizzbabe Suguhkan R&B 2000an Awal Sebagai Hidangan Pembuka


Cewek satu ini, kalau kata AI di Google Search adalah seorang active Instagram creator known for sharing travel, beach lifestyle, and modeling photos across popular vacation spots like Bali and Thailand. Saya mengenalnya sebagai Female DJ sejak kolaborasinya dengan beberapa musisi hip-hop Malang.


Mengusung lagu-lagu R&B populer satu dekade ke belakang, tentu saja penampilan Rizzba membuat saya tak kuasa menahan goyang. Beberapa lagu pun seru dinyanyikan bareng. Pada kondisi OOO Session #1 ini, memposisikannya di menu pembuka memang keputusan yang sangat tepat, untuk memanaskan suasana.


Sejenak Letakkan Alat Cukur, BÁWÉ Tampil Menggenggam Microphone


BÁWÉ merupakan nama panggung atau alter ego musikal dari Mochamad Robawi Diyar, seorang rapper sekaligus barberman asal Malang, begitu kata AI di Google Search. Namun beberapa komentar yang masuk ke DM Instagram saya lewat postingan Story tetangnya bilang, “Lho, dia sudah nggak metal-metalan?”


Cukup menarik transisi genre yang melekat pada sosok BÁWÉ ini. Meskipun band lamanya mengusung musik bernuansa gelap dan cadas, tapi dia mampu menyeberang dan mengeksplorasi kreativitasnya ke musik hip-hop dengan sangat keren.


Dalam penampilannya malam itu, BÁWÉ berkolaborasi dengan Rizzba yang menjadi DJ untuk memainkan beat-nya. Di beberapa karyanya, sekilas saya mendengar dia menuliskan cerita tentang dirinya sebagai seorang barberman. BÁWÉ memang bermusik dari percakapan, keresahan, guyonan, dan cerita sederhana yang terjadi di balik kursi barber.


SAGDS Menjadi Angin Semilir Mendinginkan Suasana


Si Anjing Gila dari Selatan yang merupakan proyek solo berformat band beraliran folk berasal dari Dampit, Malang. Adalah Ega Gilang yang menjadi motor dari solo ini. Menyanyi dan bermain gitar sendiri di atas panggung, tapi penampilannya cukup bold.


Proyek SADGS ini telah merilis beberapa karya, termasuk album perdana dalam format kaset pita serta album ketiga bertajuk Perspektif yang dirilis pada pertengahan 2026 lalu. Dari beberapa lagu yang dibawakannya, yang paling catchy adalah No Viral No Justice.


Lagu ini mengkritik sistem hukum yang dinilai timpang, di mana keadilan sering kali harus menunggu viral di media sosial baru kemudian diproses atau mendapat perhatian. Lagu ini juga menjadi gambaran bagaimana hukum kerap dipengaruhi oleh kekuatan uang dan kekuasaan. 


Klimaks di Telinga Lewat Lengkingan Merdu Omenarie


Jujur, penampilan Omenarie malam itu membuat saya super fokus menatap ke arah panggung dan menyiagakan telinga. Merdunya suara Omen dengan nada-nada tinggi, rasanya seperti dienkapsulasi untuk langsung menyerang ke gendang telinga. 


Pernah tidak, kamu merasakan rambut di kepalamu bergerak seperti bulu kuduk yang merinding? Itulah yang saya rasakan saat suara Omen mulai merasuk dari telinga, menuju otak, menjadi sesak di dada, lalu menghasilkan helaan nafas panjang.


Entah berapa track lagu yang dia bawakan malam itu, yang jelas itu membuat saya menggumam, kok bisa seniman sekeren ini luput dari telinga saya. Ya, jawabannya kembali lagi ke atas, bahwa minat saya terhadap musik nampaknya menurun seiring intensitas telinga ini mendengarkan berbagai macam musik yang digarap di studio musik Mas Gege di rumah.


4 Musisi Hidden Gem Malang Siap jadi Berlian Berkilau di Permukaan


Inisiatif Nawak Ewed menggelar OOO Session ini diharapkan bisa menjadi mula bagi para musisi yang selama ini tersembunyi di dalam kotak panggung-panggung lokal, untuk bisa dikenal lebih luas. Jika hari ini listener Spotify-nya masih hitungan puluhan atau ratusan ribu, bisa jadi tahun depan menyentuh angka jutaan.


Independent Music Ecosystem ini juga tengah mempersiapkan Rahajoe Records, divisi label dan distribusi yang mendukung para musisi Nawak Ewed, mulai dari persiapan rilis hingga distribusi digital, campaign, hingga evaluasi pasca-rilis.


Optimis musik Malang Raya bakal berkembang?