Seperempat abad sudah, 99 keping Supernova membersamai perjalanan jatuh bangun kehidupan saya. Merayakannya, saya berkesempatan bertemu langsung dengan Ibu Suri Dee Lestari dalam wadah Festival Supernova Malang, bersama 150 SupernovaDEEction dari berbagai generasi. Dan bertemu Ibu Suri, tentu saja membuat darah saya berdesir lebih deras, seperti selalu.
Mengungkapkan perasaan tentang Supernova secara langsung pada Ibu Suri, membuat saya tak kuasa menahan air mata. Di sampingnya, saya bicara terbata dan terisak, sementara di kepala saya terputar episode-episode kehidpan dari 2004 ke 2016 yang penuh liku. Dada rasanya sesak, tapi saya masih menahan agar tak meledak.
Setelah Ibu Suri membubuhkan tanda tangan ke semua buku yang saya bawa hari itu, saya langsung meninggalkan panggung dan mencari sudut untuk memuntahkan air mata. Ada kawan-kawan yang saya kenal di situ, menyambut saya dengan pelukan hangat dan puk-puk lembut di punggung saya sambil memberikan selembar tissue.
“Supernova sendiri sebetulnya ditulis dalam dua fase. Fase pertama menghasilkan KPBJ, Akar, dan Petir. Kita jeda panjang, 8 tahun, lalu fase kedua saya mulai menulis, Partikel, Gelombang, dan Inteligensi Embun Pagi, semua berurutan. Jadi memang tiga dan tiga,” tutur Ibu Suri, yang membuat pikiran saya melayang ke tahun 2004.
Akar, seri Supernova yang justru pertama kali saya baca. Tidak cukup terlambat rasanya, karena buku ini dirilis tahun 2002, hanya berjeda 2 tahun setelahnya, ketika saya mengenalnya. Waktu itu saya masih bekerja sebagai penjaga warnet, yang membuat saya akhirnya merasa relate dengan buku ini. Dan waktu itulah saya bertemu calon ayah dari anak saya.
2005 saya menikah dan pindah ke Jakarta. Kehidupan yang cukup keras dan cukup menguras emosi. Berangkat kerja sehabis Subuh dan sampai rumah selepas Isya, begitu terus kegiatan kami setiap hari. Di akhir pekan, kami menghabiskan waktu dengan berkunjung ke sesi-sesi diskusi di Kota Tua atau ikut berkontribusi dalam acara Food Not Bombs.
Di tahun itu pula saya baru membaca KPBJ (Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh) yang justru merupakan keping-keping pertama Supernova. Masih merasa relate, karena di tahun itu pun kami masih bermain MIRC atau kadang juga nyampah di forum-forum online. Surfing, begitu dulu kami menyebutnya. Bukan di air, tapi di dunia maya.
Tahun 2006 akhir, anak kami lahir, laki-laki, sehat dan tampan, seperti harapan-harapan yang kami rapal setiap memikirkannya. Kami beri dia nama Rangga. Kemudian kami pindah ke Balikpapan di 2007 dan akhirnya sempat membaca Petir, karena anak -yang sejatinya adalah titipan, bisa dititipkan pada neneknya. Di rumah sendirian dan tidak punya kesibukan, membaca jadi solusinya.
Balikpapan dilanda banjir setiap musim hujan. Suatu hari di 2009, dia datang lebih dahsyat, merendam rumah kami hingga sebatas dada saya yang punya tinggi badan 153 sentimeter. Semua terjadi begitu cepat, hingga tak banyak buku yang sempat kami evakuasi. 80% dari mereka terendam air lumpur, termasuk 3 buku Supernova cetakan pertama dengan sampul-sampulnya yang indah itu.
Hilangnya buku-buku Supernova itu juga mengiringi hilangnya banyak hal dalam hidup saya. Rasa percaya diri, keberanian untuk bicara, kepercayaan pada banyak orang, termasuk juga kehilangan ikatan indah dengan ayah anak saya. Kemudian di 2011, saya kembali ke kota kelahiran, Malang, dan memulai lagi segalanya, sendirian.
2012 ada cinta baru yang datang, memantik percikan-percikan semangat saya kembali. Pria yang pintar, cerdas, telaten menghadapi kebodohan-kebodohan saya, dan yang paling penting dia juga suka membaca. Kado ulang tahun saya di tahun itu: Supernova mulai KPBJ, Akar, Petir, hingga Partikel. Dia menggantikan semua yang hilang, keping demi keping.
Jauh-jauh dia datang dari Bandung ke Malang, di sendunya rinai hujan bulan September, hanya untuk membawakan hadiah spesial seperangkat Supernova untuk saya. Sepertinya indah, ekspekasi meninggi, hampir yakin kalau dia adalah pengganti cinta yang lalu. Namun tidak semua yang indah itu bisa menjadi milik kita selamanya, dan akhirnya kami berpisah.
Gelombang, buku kelima, menemani masa-masa sendiri saya. Berganti-ganti sosok lain menemani perjalanan saya, tapi tak satu pun yang berujung menggantikan tempat mendiang ayah Rangga, di hati, di pikiran.
Sibuk bekerja adalah pelarian yang paling tepat untuk saya yang tak punya tempat di rumah sendiri. Pergi pagi, pulang pagi lagi. Bahkan seringnya malah menginap di kantor, membawa serta tumpukan buku-buku untuk dibaca di halaman belakang saat malam tiba. Inteligensi Embun Pagi menjadi penutup kesendirian itu, karena di 2016, akhirnya saya dipertemukan dengannya.
Sosok yang dingin dan angkuh itu membuat saya penasaran. Semakin dia menghindar, semakin saya ingin mengejar. Sosok yang akhirnya luluh setelah setahun saya ganggu setiap hari. Sosok yang pintar dan cerdas itu akhirnya menerima saya, sepaket dengan kebodohan-kebodohannya. Sosok yang paling berani, tidak membuang banyak waktu, tidak beralasan ini-itu, memutuskan untuk menikahi saya.
2 Fase Ibu Suri menulis Supernova, adalah 2 fase kehidupan saya: sebelum dan setelah kematian orang yang paling saya sayangi. Fase bahagia ditemani KPBJ, Akar, dan Petir, kemudian berlanjut dengan fase duka dipeluk Partikel, Gelombang, dan IEP. Begitulah pertemuan saya dengan Ibu Suri di akhir pekan kemarin menjadi mesin waktu, melempar saya ke masa 20 hingga 10 tahun lalu.
Terima kasih, Ibu Suri. Terima kasih sudah menghadirkan Bodhi, Elektra, Zarah, Alfa, Gio, Dimas, dan Reuben untuk menemani kami semua.

.jpeg)
.jpeg)

Social Plugin